Kuliah Lapangan Geofisika 2016: Tempa Mahasiswa Menjadi Junior Geophysicist

KARANGSAMBUNG, itb.ac.id – Tak dapat disangkal bahwa teori dan praktik adalah satu kesatuan yang utuh. Guna menyempurnakan teori yang telah diperoleh selama masa perkuliahan, Program Studi Teknik Geofisika kembali melaksanakan kuliah lapangan di Karangsambungpada Senin (18/04/16). Kegiatan yang berlangsung di Kebumen, Jawa Tengah, ini diikuti oleh seluruh mahasiswa S1 Teknik Geofisika angkatan 2013 dan mahasiswa S2 Teknik Geofisika non alumni ITB. Kuliah lapangan ini merupakan kegiatan wajib bagi calon geofisikawan muda agar siap mengeksplorasi kekayaan sumber daya alam di bumi ini.

Perjalanan dilakukan menggunakan kereta dari stasiun Bandung menuju stasiun Gombong dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Suhu udara yang sebelumnya bernilai 24⁰ celcius, meningkat secara signifikan ke angka 35⁰ celcius. Tak lama kemudian, rombongan peserta dijemput oleh beberapa bus seperti metro mini namun disertai banyak variasi warna dan stiker berbagai tulisan. Masyarakat setempat menyebutnya “engkel”.

Transformasi yang Membawa Perubahan

“Kuliah lapangan Karangsambung ini adalah proses transformasi mahasiswa geofisika menjadi seorang junior geophysicist yang sudah siap terjun langsung ke lapangan,” ujar Satria Bijaksana (Dosen Teknik Geofisika ITB) selaku Dosen Koordinator sekaligus Pembimbing Kuliah Lapangan. Kondisi udara yang lembab, temperatur yang tinggi, dan kondisi cuaca yang tidak stabil membuat peserta kuliah lapangan merasa tertantang. Namun, sudah pada kodratnya bahwa seorang pekerja lapangan harus siap dalam kondisi apapun. Selama 2 minggu, para peserta akan dihadapkan dengan keanekaragaman alam Karangsambung. Minggu pertama dimulai dengan pendalaman materi geologi. Materi geologi yang dipelajari antara lain pemetaan geologi, deskripsi batuan dan singkapan, serta pendalaman materi geomorfologi. Pengetahuan tentang geologi menjadi hal yang mutlak bagi calon geofisikawan karena pengenalan akan batuan dan mineral menjadi dasar utama untuk menginterpretasikan lapisan dibawah permukaan bumi. Pada minggu kedua, peserta diberi keleluasaan memperdalam materi geofisika serta mengaplikasikan metode-metode geofisika secara langsung. Untuk setiap metode, peserta belajar akuisisi data di lapangan, mengolah data, dan menginterpretasi data yang sudah didapat dari lapangan sehingga peserta mendapat gambaran lapisan di bawah permukaan bumi. Menariknya, peserta diberi kebebasan untuk menentukan desain surveinya sendiri. Dengan demikian, peserta dapat berinovasi dalam praktik keilmuannya.

Kekayaan Alam Karangsambung

Karangsambung merupakan laboratorium alam untuk mempelajari struktur dan jenis batuan, mineral, dan beragam bentuk muka bumi akibat proses transformasi secara natural. Dahulu, Karangsambung merupakan dasar samudera. Akibat tumbukan antara tiga lempeng bumi, maka kawasan Karangsambung terangkat ke permukaan bumi. Oleh sebab itu, Karangsambung memiliki beragam jenis batuan seperti batuan beku, sedimen, dan metamorf. Selain itu, daerah ini memiliki kompleksitas pada struktur permukaannya sehingga banyak ilmuwan geologi yang menganggap tempat ini sebagai surga penelitian geologi. Tidak heran bila pemerintah mendirikan Cagar Alam Geologi Nasional di kawasan ini.

Kuliah lapangan Karangsambung ditutup dengan serangkaian acara berupa makan malam bersama, penyerahan hadiah untuk peserta terbaik, dan hiburan seperti nyanyian, tarian, ataupun stand up comedy yang diperankan oleh peserta kuliah itu sendiri. “Harapan saya setelah kuliah lapangan ini berakhir adalah setiap peserta menjadi seorang true believer, yaitu seseorang yang percaya bahwa teori yang telah dipelajari selama duduk di dalam kelas dapat dibuktikan dan direalisasikan untuk kepentingan peradaban manusia,” tutup Satria Bijaksana.

ITB Journalist Apprentice 2016

Raymond Napitupulu (Teknik Geofisika 2013)

berita ini disadur dari: https://www.itb.ac.id/news/5157.xhtml

Laporan Kegiatan Seminar Terbuka Seminar TA/Tesis ke-2

Program Studi Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung, Selasa 21 Juni 2016 telah mengadakan Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis Ke-2 untuk mahasiswa yang akan di wisuda pada bulan Juli 2016. Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis adalah suatu program yang ditujukan untuk mahasiswa S1 dan S2 untuk mempresentasikan hasil studi semasa berkuliah di Teknik Geofisika baik dalam bentuk oral maupun poster presentasi. Tema dari oral dan poster yang dipresentasikan mewakilkan berbagai bidang keilmuan geofisika, antara lain geofisika global, geofisika terapan dan eksplorasi, serta seismologi eksplorasi dan rekayasa.

Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis Teknik Geofisika ITB dibuka oleh ketua program studi Teknik Geofisika Dr. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si. Sebanyak 7 peserta oral presentation dan 14 peserta poster presentation ikut berpartisipasi dalam acara ini, dimana peserta oral presentation adalah: Khalid I. Syaifullah, S.T.; Muthia J.M. S.T.; Rexha Verdhora RY M.T.; Diaz Nurazna P. S.T.; M. Syarif A. M.T.; Madaniya M.T.; Iqbal Fauzi A. S.T.

Peserta oral presentasi diberikan waktu masing-masing 12 menit untuk mempresentasikan hasil dari penelitiannya dan 3 menit untuk sesi tanya jawab. Setelah sesi oral presentasi selesai dilanjutkan dengan sesi poster presentasi yang berlangsung selama 90 menit. Para dosen dan mahasiswa aktif Teknik Geofisika ITB pun ikut berpartisipasi dalam sesi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis.

Sebagai bentuk apresiasi bagi semua peserta, peserta oral presentasi terbaik dan peserta poster presentasi terbaik dipilih berdasarkan berbagai kriteria penilaian. Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis kemudian ditutup dengan pemberian sertifikat kepada semua peserta dan pengumuman oral dan poster presentasi terbaik. Oral presentasi terbaik adalah Madaniya M.T. dan poster presentasi terbaik adalah Gierry Helvan M.T.

Diharapkan dengan berakhirnya acara ini mahasiswa Teknik Geofisika ITB terus berkarya dan kelak akan mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis ke-2 (21 Juni 2016), Teknik Geofisika, ITB


Seminar terbuka Tugas Akhir dan Tesis ke-2 Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung akan dilaksakan pada tanggal 21 Juni 2016. Acara ini akan dimulai pada pukul 09.00 WIB – 14.00 WIB bertempat di Gedung Energi, Lantai 4, Kampus Ganesha, ITB. Jadwal acara dapat diperoleh pada tautan di bawah.

Download: Jadwal Acara Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis ke-2 Teknik Geofisika, ITB

Pengumuman Sidang Wisuda Juli 2016

Diberitahukan kepada mahasiswa S1, S2 bahwa jadwal sidang untuk Wisuda Juli 2016 yakni:

  1. 30 Mei – 3 Juni 2016 : Jadwal untuk Koloqium.
  2. 6 sd 17 Juni 2016 : Jadwal sidang untuk wisuda Juli 2015.
  3. 17 Juni 2016 : Hari terakhir sidang untuk wisuda Juli 2016.
  4. 21 Juni 2016: Seminar terbuka untuk mahasiswa yang telah dinyatakan lulus sidang.
  5. 22 Juni 2016: Hari terakhir pengumpulan berkas kelengkapan persyaratan wisuda Juli 2016, pkl 11.00 di TU Prodi.

 

Terima kasih,

Bandung 27 April 2016

TU Prodi TG

*untuk keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi TU Prodi TG 

 

Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis ke-1 (23 Maret 2016), Teknik Geofisika, ITB

Pada tanggal 23 Maret 2016, Program Studi Teknik Geofisika – Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan – Institut Teknologi Bandung mengadakan Seminar Terbuka Tugas Akhirdan Tesis Teknik Geofisika ITB untuk lulusan yang akan wisuda pada bulan April 2016. Untuk pertama kalinya, Program Studi Teknik Geofisika mengadakan seminar terbuka sebagai sarana publikasi ilmiah hasil-hasil penelitian mahasiswa Teknik Geofisika. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Energi FTTM, ITB lantai 4.

Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis Teknik Geofisika ITB kali ini membawa topik “Main Issues on Geophysics” dibuka oleh Ketua Program Studi Teknik Geofisika Dr. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si. Seminar ini mengundang para calon wisudawan dan wisudawati April 2016 dari Program Studi Teknik Geofisika baik dari program sarjana maupun program magister, untuk mempublikasikan dan mempresentasikan hasil penelitiannya selama menjadi mahasiswa di ITB. Nantinya, seminar terbuka ini akan dilakukan secara rutin (3 kali setahun) setiap menjelang wisuda.

Isu-isu hangat dan penelitian terkini pada bidang geofisika dipublikasikan dalam bentuk oral presentation dan poster presentation. Sebanyak 41 presenter ikut berkontribusi pada seminar terbuka ini. Dari pagi hingga sore hari, sebanyak 9 presenter diundang untuk mempresentasikan penelitian mereka secara bergantian. Para oral presenter tersebut adalah:  Shofi Aulia Riza, S.T.; Pujiyanti Sri Lestari, S.T.; Wieda Nur Azani, S.T.; Arintha Tevyana, S.T.; Titis Lestyowati, S.T.; Muhammad Sabila Rasyad, S.T.; Retno Rifa Atsari, M.T.; Adi Wijaya Suchiana, M.T. dan Massita Ayu Cindy Putriastuti, M.T.

Selain itu, semua 41 presenter juga ikut serta dalam sesi pameran poster. Kegiatan poster presentation ini dilaksanakan dalam 2 sesi, yaitu sesi pagi dan sesi siang. Sebanyak 21 presenter tampil pada sesi pagi hari dan 20 presenter lainnya tampil pada sesi siang hari. Tema dari semua poster yang dipresentasikan ini mewakilkan berbagai bidang geofisika, antara lain geofisika global, geofisika terapan dan eksplorasi, serta seismologi eksplorasi dan rekayasa.

Sebagai bentuk apresiasi bagi semua presenter, semua poster dinilai baik dari segi tampilan dan materi ilmiah poster, maupun teknik presentasi dari setiap presenter. Tiga poster terbaik kemudian dipilih berdasarkan berbagai kriteria penilaian.

Seminar Terbuka Tugas Akhir dan Tesis Teknik Geofisika ITB ditutup dengan pemberian sertifikat pada semua presenter dan pengumuman best poster presentation. Adapun 3 orang presenter yang mendapat predikat best poster adalah: Titis Lestyowati (1st best poster), Massita Ayu Cindy Putriastuti (2nd best poster), dan Faiz Gunarwan (3rd best poster).

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, seminar terbuka ini direncanakan untuk dilaksanakan secara rutin (3 kali setahun) menjelang wisuda. Seluruh calon wisudawan dan wisudawati dari Program Studi Teknik Geofisika akan diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannya pada acara ini. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa kolaborasi-kolaborasi lain akan dilakukan, misal dengan para dosen ataupun mahasiswa lainnya, untuk memperkaya isu-isu hangat dan penelitian terkini yang akan dipublikasikan.

SOUTHEAST ASIAN CONFERENCE ON GEOPHYSICS 2016

Development of Geophysical Methods for Sustainable Energy and Environments

Dear Colleagues,

Welcome to the 1st Southeast Asian Conference on Geophysics (SEACG), 31 August – 3 September 2016 in Bali, Indonesia. This year’s theme “Development of Geophysical Methods for Sustainable Energy and Environments” provides a venue for collaboration, sharing and developing new ideas and technologies. We welcome academics, professionals, and students to promote and discuss the scientific results related to recent development in geophysical methods. Topics to be during the meeting including, but not limited to:

  • Geophysical exploration for oil and gas
  • Geophysical exploration for new and renewable energy
  • Earthquake seismology, physical volcanology and tectonophysics
  • Engineering geophysics
  • Environmental geophysics
  • Rock physics

The accepted papers will be published in International Conference Proceeding indexed by SCOPUS.

We are looking to greeting you in Bali.

 

Dr. Andri Dian Nugraha
Head of Geophysical Engineering Department
Faculty of Mining and Petroleum Engineering
Institut Teknologi Bandung

 

Teknologi CCS Dapat Mengurangi Masalah Emisi Gas CO2 Terkait Produksi Gas Alam

Indonesia berencana untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 26% pada tahun 2020 Namun, sejumlah besar CO2 yang dilepaskan ke atmosfir selama produksi gas alam di ladang gas dipandang sebagai masalah bagi tercapainya tujuan ini. Masalah ini dapat diatasi dengan menciptakan sistem untuk menangkap karbon dioksida dan penyimpanan (CCS) teknologi - di mana CO2 yang dipancarkan selama produksi gas alam ditangkap dan disegel ke dalam tanah - sebagai sarana langsung mengurangi emisi CO2. Proyek ini akan melakukan penelitian dan pengembangan penyimpanan CO2 di bawah tanah dan teknologi pemantauan di bidang gas Gundih di Jawa Tengah, dimana produksi gas alam dijadwalkan akan dimulai.

Tujuan proyek adalah untuk mengembangkan teknologi geologi dan geofisika bawah permukaan untuk mengevaluasi penyimpanan CO2 dalam di dalam dan di sekitar ladang gas dan untuk pemantauan injeksi gerakan CO2 untuk memastikan distribusi dan perilaku CO2 dalam penyimpanan. Hasil yang dicapai akan digunakan untuk melakukan sistematisasi teknologi CCS untuk penyimpanan bawah tanah yang aman dari CO2 yang dipancarkan selama produksi gas alam dan membantu mengurangi emisi CO2 pada skala global.

CArbon Capture and Storage (CCS) adalah proses menangkap limbah CO2 dari suatu sumber seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil (termasuk dari aktifitas produksi gas alam) dan meyimpannya di sebuah formasi geologi bawah tanah agar tidak memasuki atmosfer. Tujuannya adalah mencegah pelepasan sejumlah besar CO2 ke atmosfer. Meskipun Co2 telah diinjeksikan ke dalam formasi geologi selama beberapa dekade untuk berbagai tujuan, termasuk enhaced oil recovery, penyimpanan jangka panjang dari CO2 adalah konsep yang relatif baru. Contoh komersial pertama adalah Weyburn pada tahun 2003 yang dapat digunakan untuk menggambarkan pembersihan CO2 dari udara sebagai sebuah teknik geoengineering.

Metode Magnetik dan Magnetotelurik Dalam Pertambangan

Sudah tidak dapat dipungkiri bila Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, salah satunya adalah hasil tambang. Namun hingga saat ini, eksplorasi mineral padat di Indonesia masih terbatas pada kedalaman yang dangkal. beruntungnya, persebaran endapan-endapan hasil bumi masih bisa langsung diamati di permukaan bumi atau dari data bor. Seiring perjalanan waktu, keterdapatan mineral yang dieksploitasi di dekat permukaan bumi makin berkurang. Oleh karena itu, tantangan yang ada adalah bagaimana memperkirakan sebaran endapan mineral di bawah permukaan bumi yang dalam. Dengan dukungan data geologi yang cukup, metode geofisika dapat digunakan untuk estimasi akurasi keberadaan mineral tambang tersebut.

Dalam suatu studi eksplorasi endapan mineral, survey geofisika dilakukan dengan mempelajari perbedaan sifat fisik batuan target seperti densitas, sifat kelistrikan, dan kemagnetan untuk mengetahui informasi struktur, sebaran dan jumlah mineral yang ada.

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran suseptibilitas magnetik yang dimiliki batuan, misalnya karena terdapatnya unsur mineral magnetik atau logam pada batuan tersebut. Beberapa mineral lain juga akan memberikan respon terhadap pengukuran magnetik dan dapat diperkirakan variasi persentasenya. Oleh karena itu metode ini cocok untuk digunakan pada eksplorasi mineral yang memiliki sifat magnet seperti bijih besi yang berasosiasi dengan granit. Anomali magnetik positif akan dipengaruhi oleh induksi ferromagnetik yang terkandung pada granit.

Metode magnetotelurik (MT) digunakan untuk memetakan resistivitas bawah permukaan. Walaupun masih jarang digunakan di industri pertambangan, tuntutan untuk penambangan potensi mineral pada kedalaman 500 hingga 1500 meter selalu bertambah. Pada kedalaman tersebut, kekuatan resolusi metode EM atau IP sangan berkurang. Metode MT adalah pilihan yang tepat karena dikenal dengan cakupan kedalamannya yang besar dan kepekaannya terhadap konduktor bawah permukaan.

Studi Seismik Hazard dan Analisis Risiko dengan Pendekatan Probabilitas di Pulau Jawa.

Pulau Jawa berada di dalam Kepulauan Indonesia, diatas Lempeng Eurasia oleh tunjaman ke utara Lempeng Australia di bawah Lempeng Eurasia. Konvergensi penunjaman membentuk sudut ortogonal terhadap palung di sepanjang selatan Pulau Jawa. Pada bencana gempa bumi yang diakibatkan oleh penunjaman lempeng, studi dan evaluasi tentang bahaya dan risiko gempa bumi perlu dilakukan. Salah satu metode untuk menganalisis probabilitas risiko gempa adalah dengan melakukan studi seismic hazard. Studi tentang seismic hazard dilakukan dengan pendekatan probabilitas menggunakan metode event based approach. Ini berarti bahwa gerakan tanah dihitung secara tiap peristiwa dan hasilnya dikumpulkan secara terpisah untuk membentuk estimasi probabilitas. Metode event based approach berbeda dari pendekatan PSHA yang mengintegrasikan seluruh kombinasi besar dan jarak. Penelitian ini menyajikan klasifikasi site (jenis tanah) untuk Pulau Jawa dengan menggunakan kecepatan gelombang geser kedalaman 30 m (Vs30) dari data USGS. Selanjutnya, analisis risiko probabilitas seismik hazard dilakukan untuk memetakan bahaya seismik dalam hal percepatan tanah maksimum di batuan dasar dan pada batuan permukaan dengan mempertimbangkan klasifikasi site. Berdasarkan pada potensial sumber gempa, sejarah kegempaan, kondisi geologi, dan kurva kerentanan maka model risiko dari Pulau Jawa dapat digambarkan.