Teknologi CCS Dapat Mengurangi Masalah Emisi Gas CO2 Terkait Produksi Gas Alam

Indonesia berencana untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 26% pada tahun 2020 Namun, sejumlah besar CO2 yang dilepaskan ke atmosfir selama produksi gas alam di ladang gas dipandang sebagai masalah bagi tercapainya tujuan ini. Masalah ini dapat diatasi dengan menciptakan sistem untuk menangkap karbon dioksida dan penyimpanan (CCS) teknologi - di mana CO2 yang dipancarkan selama produksi gas alam ditangkap dan disegel ke dalam tanah - sebagai sarana langsung mengurangi emisi CO2. Proyek ini akan melakukan penelitian dan pengembangan penyimpanan CO2 di bawah tanah dan teknologi pemantauan di bidang gas Gundih di Jawa Tengah, dimana produksi gas alam dijadwalkan akan dimulai.

Tujuan proyek adalah untuk mengembangkan teknologi geologi dan geofisika bawah permukaan untuk mengevaluasi penyimpanan CO2 dalam di dalam dan di sekitar ladang gas dan untuk pemantauan injeksi gerakan CO2 untuk memastikan distribusi dan perilaku CO2 dalam penyimpanan. Hasil yang dicapai akan digunakan untuk melakukan sistematisasi teknologi CCS untuk penyimpanan bawah tanah yang aman dari CO2 yang dipancarkan selama produksi gas alam dan membantu mengurangi emisi CO2 pada skala global.

CArbon Capture and Storage (CCS) adalah proses menangkap limbah CO2 dari suatu sumber seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil (termasuk dari aktifitas produksi gas alam) dan meyimpannya di sebuah formasi geologi bawah tanah agar tidak memasuki atmosfer. Tujuannya adalah mencegah pelepasan sejumlah besar CO2 ke atmosfer. Meskipun Co2 telah diinjeksikan ke dalam formasi geologi selama beberapa dekade untuk berbagai tujuan, termasuk enhaced oil recovery, penyimpanan jangka panjang dari CO2 adalah konsep yang relatif baru. Contoh komersial pertama adalah Weyburn pada tahun 2003 yang dapat digunakan untuk menggambarkan pembersihan CO2 dari udara sebagai sebuah teknik geoengineering.

Metode Magnetik dan Magnetotelurik Dalam Pertambangan

Sudah tidak dapat dipungkiri bila Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, salah satunya adalah hasil tambang. Namun hingga saat ini, eksplorasi mineral padat di Indonesia masih terbatas pada kedalaman yang dangkal. beruntungnya, persebaran endapan-endapan hasil bumi masih bisa langsung diamati di permukaan bumi atau dari data bor. Seiring perjalanan waktu, keterdapatan mineral yang dieksploitasi di dekat permukaan bumi makin berkurang. Oleh karena itu, tantangan yang ada adalah bagaimana memperkirakan sebaran endapan mineral di bawah permukaan bumi yang dalam. Dengan dukungan data geologi yang cukup, metode geofisika dapat digunakan untuk estimasi akurasi keberadaan mineral tambang tersebut.

Dalam suatu studi eksplorasi endapan mineral, survey geofisika dilakukan dengan mempelajari perbedaan sifat fisik batuan target seperti densitas, sifat kelistrikan, dan kemagnetan untuk mengetahui informasi struktur, sebaran dan jumlah mineral yang ada.

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran suseptibilitas magnetik yang dimiliki batuan, misalnya karena terdapatnya unsur mineral magnetik atau logam pada batuan tersebut. Beberapa mineral lain juga akan memberikan respon terhadap pengukuran magnetik dan dapat diperkirakan variasi persentasenya. Oleh karena itu metode ini cocok untuk digunakan pada eksplorasi mineral yang memiliki sifat magnet seperti bijih besi yang berasosiasi dengan granit. Anomali magnetik positif akan dipengaruhi oleh induksi ferromagnetik yang terkandung pada granit.

Metode magnetotelurik (MT) digunakan untuk memetakan resistivitas bawah permukaan. Walaupun masih jarang digunakan di industri pertambangan, tuntutan untuk penambangan potensi mineral pada kedalaman 500 hingga 1500 meter selalu bertambah. Pada kedalaman tersebut, kekuatan resolusi metode EM atau IP sangan berkurang. Metode MT adalah pilihan yang tepat karena dikenal dengan cakupan kedalamannya yang besar dan kepekaannya terhadap konduktor bawah permukaan.

Studi Seismik Hazard dan Analisis Risiko dengan Pendekatan Probabilitas di Pulau Jawa.

Pulau Jawa berada di dalam Kepulauan Indonesia, diatas Lempeng Eurasia oleh tunjaman ke utara Lempeng Australia di bawah Lempeng Eurasia. Konvergensi penunjaman membentuk sudut ortogonal terhadap palung di sepanjang selatan Pulau Jawa. Pada bencana gempa bumi yang diakibatkan oleh penunjaman lempeng, studi dan evaluasi tentang bahaya dan risiko gempa bumi perlu dilakukan. Salah satu metode untuk menganalisis probabilitas risiko gempa adalah dengan melakukan studi seismic hazard. Studi tentang seismic hazard dilakukan dengan pendekatan probabilitas menggunakan metode event based approach. Ini berarti bahwa gerakan tanah dihitung secara tiap peristiwa dan hasilnya dikumpulkan secara terpisah untuk membentuk estimasi probabilitas. Metode event based approach berbeda dari pendekatan PSHA yang mengintegrasikan seluruh kombinasi besar dan jarak. Penelitian ini menyajikan klasifikasi site (jenis tanah) untuk Pulau Jawa dengan menggunakan kecepatan gelombang geser kedalaman 30 m (Vs30) dari data USGS. Selanjutnya, analisis risiko probabilitas seismik hazard dilakukan untuk memetakan bahaya seismik dalam hal percepatan tanah maksimum di batuan dasar dan pada batuan permukaan dengan mempertimbangkan klasifikasi site. Berdasarkan pada potensial sumber gempa, sejarah kegempaan, kondisi geologi, dan kurva kerentanan maka model risiko dari Pulau Jawa dapat digambarkan.